السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Susilo Penjasorkes: Materi

kata

Selamat Datang di Susilo Penjasorkes...Pendidikan adalah lapangan perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan....Dalam olahraga terdapat kesenangan. Dalam olahraga terdapat kesehatan. Dalam olahraga terdapat perjuangan. Dalam olahraga kita menemukan banyak hal...ncoezhexagon....
Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Tuesday, 20 January 2015

Formasi Permainan Sepak Bola



FORMASI PEMAIN DALAM SEPAK BOLA


Formasi permainan dalam sepak bola terdiri dua yaitu :
Formasi penyerangan

Tujuan formasi penyerangan yaitu untuk bisa mencetak gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan.
Formasi bertahan

Tujuan dari formasi bertahan adalah untuk menjaga agar lawan tidak bisa mencetak gol ke gawnag.


Pada saat bertanding, sebuah tim atau kesebelasan pasti menggunakan formasi permainan. Tujuan penggunaan formasi ini merupakan strategi sebuah tim untuk memenangkan pertandingan dengan mencetak gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Beberapa formasi yang sering di pakai yaitu :
Pola 4-2-4



Yang dimaksud dengan pola 4-2-4 dalam sebuah tim sepak bola terdiri atas, empat orang pemain belakang ( bertahan ), dua orang pemain tengah ( gelandang ) dan empat pemain depan ( penyerang ).

Penggunaan pola 4-2-4 dalam sebuah tim sepak bola berarti tim tersebut lebih menyerang karena menempatkan empat orang pemain depan yang bertindak sebagai penyerang. Dengan maksud agar lebih banyak peluang dapat memasukan bola ke gawang lawan.



Pola 4-4-2



Penggunaan pola 4-4-2 adalah tim tersebut menempatkan empat orang pemain belakang ( pertahanan ), empat orang pemain tengah ( gelandang ), dan dua orang pemain depan ( sebagai penyerang ). Penggunaan pola ini biasanya tim tersebut menekankan pada keseimbangan, kekuatan pertahanan dan penyerangan.



Pola 4-3-3



Pada permainan pola 4-3-3 merupakan tim tersebut menempatkan empat orang pemain belakang ( bertahan ), tiga orang pemain tengah ( gelandang ), dan tiga orang pemain depan ( penyeang ). Penggunaan pola ini lebih memperkuat penyerangan dengan menempatkan tiga pemain di posisi penyerang. Tim dengan pola ini biasanya kurang tangguh di posisi lapangan tengah, yang berperan cukup penting untuk memberikan dukungan terhadap kemampuan menyerang.


Pola 1-3-3-3



Tim yang menempatkan pola ini, menempatkan satu orang pemain belakang pertahanannya. Tepatnya sebagai pemain tengah belakang ( center back ) dan berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir sebelum penjaga gawang. Pemain pada posisi ini mepunyai ruang gerak yang sangat luas, dan biasanya sangat leluasa untuk bergerak ke segala arah



Pola 5-3-2



Pemain dengan pola 5-3-2 lebih mengutamakan pertahanan, tim ini menempatkan lima orang pemain didaerah belakang dan dimaksud untuk memperkuat daerah pertahanan dari serangan lawan. Sedangkan diposisi pemain tengah ditempatkan tiga pemain ( gelandang ), dan dua orang pemain depan sebagai prnyerang. Meskipun lebih mengutamakan pertahanan bukan berarti kesebelasan yang menerapkan pola 5-3-2 tidak melakukan penyerangan. Kesebelasan dengan pola ini mengandalkan strategi penyerangan baik sebagai penyerang kedaerah lawan,,

salam olahraga,,,,,

Thursday, 20 November 2014

Test Multi Tahap


Test Lari Multi Tahap (Multystage Fitness Test)

Lari bolak-balik (Shuttle Run) atau lari multitahap (multystage fitness test) digunakan untuk menilai kesegaran aerobik.


§  Perlengkapan
1)   Pita cadence untuk lari bolak-balik.
2)   Lintasan lari.
3)   Mesin pemutar kaset (tape recorder).
4)  Tempat (space) out door atau di dalam gedung mempunyai ukuran jarakyang bermarka 20 meter pada permukaan yang datar, rata dan tidak licin.
5)   Stopwatch
6)   Kerucut pembatas atau patok 4.
7)   Formulir.

§  Prosedur
1)  Pelaksanaan tesapabila dilaksanakan di luar gedung (out door), sebaiknya saat selama tes berlangsung tidak boleh lebih dari jam 11.00 WIB, karena faktor panas matahari akan berpengaruh pada hasil tes.
2)  Ceklah kecepatan mesin pemutar kaset dengan menggunakan periode kalibrasi satu menit dan sesuaikan jarak lari bilamana perlu (telah dijelaskan di dalam pita rekaman dan di dalam manual pitanya).


Kecepatan Pemutar Kaset
Periode Waktu (detik)
Jarak Lari (meter)
55
18,333
55,5
18,5
56
18,666
56,5
18,833
57
19
57,5
19.166
58
19,333
58,5
19,5
59
19,666
59,5
19,833
60
20
60,5
20,166
61
20,333
61,5
20,5
62
20,666
62,5
20,833
63
21
63,5
21,166
64
21,333
64,5
21,5

3)   Ukurlah jarak hasil cek kaset tersebut dan berilah tanda dengan pita dan pembatas jarak
4)   Jalankan pita cadencenya
5)   Instruksikan kepada testi untuk lari ke arah ujung/akhir yang berlawanan dan sentuhkan satu kaki di belakang garis batas pada saat terdengar bunyi “tuut”.  Apabila testi telah sampai sebelum bunyi “tuut”, testi harus bertumpu pada titik putar, menanti tanda bunyi kemudian lari ke arah garis yang berlawanan agar supaya dapat mencapai tepat pada saat tanda berikutnya berbunyi.
6)  Pada akhir dari tiap menit interval waktu di antara dua bunyi “tuut” makin pendek, oleh karena itu, kecepatan lari makin bertambah cepat.
7)  Testi harus dapat mencapai garis ujung pada waktu yang ditentukan dan tidak terlambat. Tekankan kepada testi agar berputar dan lari kembali, bukannya lari membuat belokan melengkung, karena akan memakan lebih banyak waktu.
8)  Tiap testi terus berlari selama mungkin sehingga testi tidak dapat lagi mengejar tanda bunyi “tuut” dari pita rekaman. Kriteria untuk menghentikan testi adalah apabila testi tertingggal tanda bunyi “tuut” dua kali lebih dari dua langkah di belakang garis ujung.

§  Penilaian
Catatlah level dan shuttle terakhir yang dapat dilakukan atau diselesaikan testi (dua kali tidak dapat menyelesaikan garis akhir lintasan saat bunyi “tuut”), kemudian konsultasikan dengan tabel  VO2Maks berikut.


Prediksi Nilai VO2Maks
Level
Shuttle
VO2Max

1
1
17.2
2
17.6
3
18.0
4
18.4
5
18.8
6
19.2
7
19.6

2
1
20.0
2
20.4
3
20.8
4
21.2
5
21.6
6
22.4
7
22.8

3
1
23.2
2
23.6
3
24.0
4
24.4
5
24.8
6
25.2
7
25.6
8
26.0

4
1
26.4
2
26.8
3
27.6
4
27.7
5
28
6
28.3
7
28.7
8
29.1
9
29.5

5
1
29.8
2
30.2
3
30.6
4
31
5
31.4
6
31.8
7
32.4
8
32.6
9
32.9

6
1
33.2
2
33.6
3
33.9
4
34.3
5
34.7
6
35
7
35.4
8
35.7
9
36
10
36.4
7
1
36.8
2
37.1
3
37.5
4
37.8
5
38.2
6
38.5
7
38.9
8
39.2
9
39.6
10
39.9

8
1
40.2
2
40.5
3
40.8
4
41.1
5
41.5
6
41.8
7
42
8
42.2
9
42.6
10
42.9
11
43.3

9
1
43.6
2
43.9
3
44.2
4
44.5
5
44.9
6
45.2
7
45.5
8
45.8
9
46.2
10
46.5
11
46.8

10
1
47.1
2
47.4
3
47.7
4
48.0
5
48.4
6
48.7
7
49
8
49.3
9
49.6
10
49.9
11
50.2

11
1
50.2
2
50.8
3
51.1
4
51.4
5
51.6
6
51.9
7
52.2
8
52.5
9
52.8
10
53.1
11
53.4
12
53.7

12
1
54
2
54.3
3
54.5
4
54.8
5
55.1
6
55.4
7
55.7
8
56
9
56.3
10
56.5
11
56.8
12
57.1

13
1
57.4
2
57.6
3
57.9
4
58.2
5
58.5
6
58.7
7
59.0
8
59.3
9
59.5
10
59.8
11
60.0
12
60.3
13
60.6

14
1
60.8
2
61.1
3
61.4
4
61.7
5
62.0
6
62.2
7
62.5
8
62.7
9
63.0
10
63.3
11
63.6
12
63.8
13
64.1

15
1
64.3
2
64.6
3
64.8
4
65.1
5
65.3
6
65.6
7
65.9
8
66.2
9
66.5
10
66.7
11
66.9
12
67.2
13
67.5


Kategori
VO2Max (ml/kg/min)
<30
31 – 39
40 – 49
Sangat Kurang
<25.0
<25.0
<25.0
Kurang
25.0 – 33.7
25.0 – 30.1
25.0 – 26.4
Sedang
33.8 – 42.5
30.2 – 39.1
26.5 – 35.4
Baik
42.6 – 51.5
39.2 – 48.0
35.5 – 45.0
Baik Sekali
51.6 +
48.1 +
45.1 +
                  Sumber : Davis Kimmet, 1986

Sumber :  
Puskesjasrek. 2000. Pedoman dan Modul Pelatihan Kesehatan Olahraga Bagi Pelatih Olahragawan Pelajar. Jakarta: Depdiknas.